Kamis, 29 Maret 2012

0

Cerita IBU, ANAK NYA dan BURUNG BANGAU

Sebelumnya aku belum pernah mendengar cerita ini.
Baru malam ini tepatnya  : Kamis, 29 Maret 2012
Aku pertama kali mendengar cerita ini dan langsung meneteskan air mata.
Ketika latihan teater JAB di kampus, saat itu seorang teman latihanku  ber acting dan menceritakan cerita ini . . . cekidotttt >>>>
 

Ada seorang anak perempuan dan ibunya yang sudah tua sedang duduk di pinggir danau , ,
Mereka menikmati keindahan danau yang begitu terlihat menawan sore itu, ,
Sang ibu bertanya kepada anak perempuannya itu
“ Nak, benda apakah yang ad di tengah danau itu?” Tanya sang ibu lirih
“ Itu namanya burung bangau anak ibu .” Jawab anaknya
Beberapa saat kemudian sang ibu bertanya lagi
“ Nak benda apakah yang terbang itu ?” tanya sang Ibu lirih
“ Ibu, itu namanya burung bangau.”Jawab anaknya dengan nada sedikit tinggi
Beberapa saat kemudai sang ibu bertanya lagi kepada anaknya untuk yang ketiga kalinya
“ Nak, benda putih apakah itu yang terbang diatas danau ?” Tanya sang ibu dengan suara yang ringkih
“ Ibu, itu namanya Burung BANGAU ! Bukan kah tadi ibu sudah bertanya dua kali dan aku sudah menjawab bahwa itu adalh burung bangau, “ Jawab sang anak dengan nada tinggi dan kesal karena ibunya bertanya terus
Suasana hening sesaat . . .
Dengan suara ringkih sang ibu berkata kepada anaknya
“ 30 tahun lalu, ditempat dan suasana yang sama seperti ini, kau bertanya kepada ibu seperti apa yang ibu tanya kan padamu tadi. Tidak hanya 3 kali engkau bertanya, bahkan sampai berkali-kali, dan dengan tersenyum ibu selalu menjawab kalu itu adalah burung bangau anakku. Tidak pernah sekali pun ibu marah saat menjawab pertanyaan mu yang selalu sama itu,” jelas ibunya lirih
Suasana menjadi hening, dan anak perempuan itu hanya tertunduk sedih :(
 
Mungkin bagi yang pernah mendengar cerita ini hal biasa. Tapi aku baru pertama kali ,mendengar cerita ini. Dan aku langsung mengingat akan ibu ku, betapa sabarnya dia mengajari ku hingga aku menjadi mengerti akan segala hal lebih dari tentang burung bangau :(
IBU , , , i miss u
Aku sayang IBU  :)

0 komentar:

Senin, 19 Maret 2012

5

RAGAM BAHASA SLANG


PUPUT ALVIANI / 10003022
SOSIOLINGUISTIK
 

RAGAM BAHASA SLANG

            Slang oleh Kridalaksana (1982:156) dirumuskan sebagai ragam bahasa yang tidak resmi digunakan oleh kaum remaja, serta waria atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (1985:57) bahwa slang adalah variasi ujaran yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah, digunakan oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk komunikasi di dalamnya.

            Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim digunakan di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya dipertegas lagi kedalam bentuk. Slang ini selanjutnya dapat dipertegas lagi ke dalam bentuk cant, yaitu bahasa gaul yang diucapkan dengan nada atau intonasi tertentu sehingga terasa ringan, lucu, dan ekspresif cocok untuk suasana santai yang bersifat rahasia. Sedangkan cant yang khusus dipergunakan oleh para penjahat atau preman dikenal dengan istilah Argot menurut Kridalaksana (1982:14) bahasa dan perbendaharaan kata suatu kelompok orang, seperti bahasa pencopet. Sedangkan menurut Chear (1995:80) Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi- profesi tertentu dan bersifat rahasia. Kelompok yang dimaksud disini adalah kelompok orang muda (orang yang merasa dirinya muda), maka yang sesuai dengan penelitian adalah bahasa Cant yang berfungsi sebagai bahasa dari sekelompok orang atau kalangan tertentu terutama pada kelompok remaja dan waria. Pada tahun 1940-an cant tersebut berbentuk penggantian suku kata (syllable) terakhir dari suatu kata dari suatu kata dengan ”se”. Sebagai contoh kata genis menjadi gense. Namun pada tahun 1980-an para pemuda usia ini mengambil alih bahasa prokem yang berasal dari para penjahat atau preman di Jakarta. Jadi ujaran rakyat kelompok usia muda sejak itu telah mengubah slang nya dari sifat cant menjadi argot. Bahasa prokem ini kemudian telah berhasil menjadikan dirinya menjadi bahasa lisan dari orang Indonesia pada umumnya di daerah perkotaan.
           
            Bahasa pada kalangan homoseksual (gay dan lesbian) sangat menarik karena para homoseksual menciptakan cant tersendiri untuk kelompoknya. Bahasa para gay dan lesbian ini juga tidak langgeng, karena pada beberapa tahun ini telah timbul jenis cant gay yang lain lagi, yang mereka namakan bahasa gaul. Bahasa gaul saat ini semakin ngetop dan ngetrend, sehingga diambil alih juga oleh para remaja dan orang muda dari kalangan pengusaha, artis, film sinetron, mahasiswa dan lain- lain. Bahasa para gay dan lesbian ini pada beberapa tahun yang lalu, adalah cant dengan cara menyisipkan suku kata ”in”, seperti untuk banci menjadi binancini, sedangakan untuk istilah bule menjadi binuline, dan sebagainya. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, kalagan yang mengakui adanya prularitas orientasi seksual dikenal adanya pengguaan bahasa gaul yang secara budaya dan pengucapan mempertunjukkan kreasi dan kegairahan mereka tanpa menjadi terjebak pada penyeragaman bahasa yang membosankan, tanpa daya pikir, anti-kenikmatan dan mentabukan seksual. Sebaliknya mereka aktif menciptakan keragaman, merangsang gairah- gairah (pengucapan) oral mereka selalu aktif menciptakan dan menciptakan literatur yang lebih terbuka pada kesenangan para gay dan lesbian.
            Secara permukaan dimarjinalkan, masyarakat secara aktif mengagungkan satu orientasi seksual yang sakral mengadopsinya dalam bahasa keseharian mereka (contoh: ”bencong”) di bawah ini adalah penjelasan singkat bagaimana kreativitas bahasa itu diekspresikan dalam keberagaman, yang disebut bentuk bahasa ”binan” waria. Bahasa gaul khusus yang diciptakan para waria khususnys di jalan Gajah Mada Medan dalam berkomunikasi sesama kelompok termasuk kedalam gejala bahasa. Pada mulanya pembentukan bahasa slang, prokem, cant, argot, jargon, dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas atau golongan bawah (Alwasilah, 2006:29). Lambat laun oleh masyarakat akhirnya bahasa tersebut digunakan untuk komunikasi seharihari. Kecenderungan masyarakat ataupun para pelajar menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari- hari semakin tinggi, dan lebih parah makin berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampur adukkan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum. Bahasa gaul sering digunakan sebagai bentuk percakapan sehari- hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media populer separti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan digunakan sebagai publikasi yang ditujukan untuk kalangan waria, remaja oleh majalah- majalah remaja populer. Maka sebab itu, bahasa gaul dapat disimpulkan sebagai bahasa utama yang digunakan komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari- hari.Seperti halnya bahasa lain, bahasa gaul juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat berupa penambahan dan pengurangan kosakata. Tidak sedikit kata-kata yang akan menjadi kuno (usang) yang disebabkan oleh perkembangan zaman. Setiap generasi akan memiliki ciri tersendiri sebagai identitas yang membedakan dari kelompok lain. Dalam hal ini, bahasalah sebagai representatifnya. Dari segi fungsinya, bahasa gaul memiliki persamaan antara slang, dan prokem. Kosa kata bahasa remaja banyak diwarnai oleh bahasa prokem, bahasa gaul, dan istilah yang pada tahun 1970-an banyak digunakan oleh para pengguna narkoba (narkotika, obat-obatan dan zat adiktif). Hampir semua istilah yang digunakan bahasa rahasia di antara mereka yang bertujuan untuk menghindari campur tangan orang lain. Bahasa gaul merupakan bentuk bahasa tidak resmi (Nyoman Riasa, 2006). Waria adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan. Sebutan bencong juga dikenakan terhadap waria dan bersifat negatif.

            Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya populer seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut adalah sejarah kata bahasa gaul tersebut:
1)      Nih Yee...
Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.
2)      Memble dan Kece
Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh Dorce Gamalama.
3)      Bow....
Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Bow…adalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini.
4)      Nek...
Setelah kata Bow... popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek... yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek... pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek...
5)      Jayus
Pada akhir dekade 90-an dan awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata ini dapat berarti sebagai ‘lawakan yang tidak lucu’, atau ‘tingkah laku yang disengaja untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan’. Kelompok yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di Kitaran Kemang. Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh temantemannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti temantemannya di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU sekitar.
6)      Jaim
Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image.
7)      Gitu Loh...(GL)
Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh...di tiap akhir pembicaraan.


sumber :http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16762/4/Chapter%20I.pdf

5 komentar:

Selasa, 06 Maret 2012

0

Teater JAB, UAD


Dramatisasi Puisi JAB Ramaikan Festival Muharram

Minggu, 27 November 2011
Dramatisasi Puisi Teater JAB yang di sutradarai oleh Danik T.S dengan judul naskah ‘Jembatan’ ikut meramaikan kegiatan ‘Pergelaran Seni Festival Muharram 1433 H’. Acara yang dilaksanakan minggu (27/11/2011) di Hall Kampus II, UAD sebagai salah satu pengisi acara yang bukan hanya memberikan suguhan pentas menyanyi dan menari saja, tetapi juga menampilkan pentas acting yang indah untuk di lihat.

Selain dari Teater JAB yang menyuguhkan pentas dramatisasi puisi, perwakilan dari mahasiswa baru PBSI pun ikut serta meramaikan kegitan tersebut. Selain dari dalam kampus, kegiatan ini juga mendatangkan pengisi acara dari luar kampus yaitu dari SMP Muhammadiyah 7 yang menyuguhkan seni Karawitan.

Sebagai pengisi acara yang dijadikan penutup dalam kegiatan Pergelaran Seni Festival Muharram 1433 H’, pentas Dramatisasi Puisi Teater JAB mendapat respon yang begitu luar biasa dari penonton. “ Ini adalah pentas pertama saya dan alhamdulilah mendapat respon baik dari penonton, ini merupakan kebanggaan buat saya”, ungkap Githa, salah satu aktor yang memerankan tokoh mahasiswa judes dalam pentas tersebut.

Perpaduan seni acting, musik, pembacaan puisi dan nyanyi yang dibawakan apik dalam naskah ‘jembatan’ ini bukan hanya menyajikan pentas yang hanya untuk ditonton saja, namun terdapat amanat-amanat yang patut direnungkan dalam adegan-adegan yang dilakoni dalam pementasan. Sehingga penonton tidak hanya mendapat hiburan saja, namun juga edukasi yang disampaikan lewat sebuah pementasan Dramatisasi puisi tersebut. (XO_Pod)








0 komentar: